Hidup adalah pilihan
Thursday, June 30th, 2005Ada
2 buah bibit tanaman yang terhampar di sebuah ladang yang subur. Bibit yang pertama berkata, "Aku ingin tumbuh besar. Aku ingin
menjejakkan akarku dalam-dalam
di tanah ini, dan menjulangkan tunas-tunasku di atas kerasnya tanah
ini. Aku ingin membentangkan
semua tunasku, untuk menyampaikan salam musim semi.Aku ingin merasakan
kehangatan matahari, dan kelembutan embun pagi di pucuk-pucuk daunku."Dan
bibit itu tumbuh, makin menjulang.
Bibit yang kedua bergumam.
"Aku takut. Jika kutanamkan akarku ke dalam tanah ini, aku tak tahu, apa yang akan kutemui di
bawah sana. Bukankah disana sangat gelap? Dan jika kuteroboskan tunasku keatas, bukankah nanti
keindahan tunas-tunasku
akan hilang? Tunasku ini pasti akan terkoyak. Apa yang akan terjadi jika tunasku terbuka, dan
siput-siput mencoba untuk memakannya? Dan pasti, jika aku tumbuh dan merekah, semua
anak kecil akan berusaha untuk mencabutku
dari tanah. Tidak, akan lebih baik jika aku menunggu sampai semuanya
aman."Dan bibit itupun
menunggu, dalam kesendirian.
Beberapa
pekan kemudian, seekor ayam mengais tanah itu, menemukan bibit yang kedua tadi, dan mencaploknya segera.
Renungan:
Memang, selalu saja ada pilihan
dalam hidup. Selalu saja ada lakon-lakon yang harus kita jalani. Namun, seringkali kita
berada dalam kepesimisan, kengerian, keraguan, dan kebimbangan-kebimbangan yang kita ciptakan
sendiri. Kita kerap terbuai
dengan alasan alasan untuk tak mau melangkah, tak mau menatap hidup.Karena
hidup adalah pilihan, maka, hadapilah itu dengan gagah. Dan karena hidup
adalah pilihan, maka, pilihlah
dengan bijak.
“Dua puluh tahu
mendatang, anda akan merasa lebih menyesal karena ada sesuatu yang sebenarnya bisa
Anda kerjakan, tapi tidak Anda kerjakan.Untuk itu, Kembangkan layar Anda dan
berlayarlah dari pelabuhan yang aman.Raihlah apa yang ada di hadapan
Anda.Pelajari, Impikan dan Temukan”.(Mark Twain, Novelis)
Road to be a silver,
phenk phenk


